PENERAPAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL BALI SEBAGAI UPAYA PENGUATAN KARAKTER PUSTAKAWAN
Keywords:
nilai kearifan lokal Bali, pustakawan, penguatan karakterAbstract
Abstrak
Di era digital dan arus informasi saat ini, pustakawan berperan sebagai navigator informasi yang menghubungkan masyarakat (pemustaka) dengan sumber pengetahuan yang valid. Peran ini selain diperlukan keterampilan teknis (hard skills), juga penguatan karakter yang kokoh agar pustakawan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Untuk itu, pustakawan dapat menerapkan nilai-nilai kearifan lokal Bali dalam pelayanan jasa perpustakaan. Pelayanan berbasis kearifan lokal Bali mengacu pada praktik pemberian layanan yang mengintegrasikan nilai-nilai luhur, filosofi, dan norma budaya masyarakat Bali guna menciptakan harmoni dan kepuasan bagi semua pihak. Kearifan lokal Bali yang dimaksud, antara lain : Tri Hita Karana, Tat Twam Asi, Tri Kaya Parisudha dan Catur Paramita. Penguatan karakter pustakawan berbasis kearifan lokal Bali adalah proses internalisasi nilai-nilai luhur budaya masyarakat Bali yang bertujuan untuk menciptakan layanan perpustakaan yang humanis, inklusif, dan melestarikan identitas kultural. Melalui pemahaman dan penerapan kearifan lokal Bali dalam pelayanan perpustakaan dapat memperkuat karakter pustakawan. Pustakawan yang berkarakter, humanis, dan kompeten adalah kunci tercapainya tujuan perpustakaan dalam membangun masyarakat berpengetahuan (knowledge society).
Kata-kata kunci: nilai kearifan lokal Bali, pustakawan, penguatan karakter
Abstract
In today's digital era and the flow of information, librarians act as information navigators, connecting the public (users) with valid sources of knowledge. This role requires not only technical skills (hard skills), but also a strong character to enable librarians to adapt to changing times. Therefore, librarians can apply Balinese local wisdom values in library services. Services based on Balinese local wisdom refer to service delivery practices that integrate the noble values, philosophy, and cultural norms of the Balinese people to create harmony and satisfaction for all parties. The Balinese local wisdom in question includes: Tri Hita Karana, Tat Twam Asi, Tri Kaya Parisudha, and Catur Paramita. Strengthening the character of librarians based on Balinese local wisdom is a process of internalizing the noble values of Balinese culture, aimed at creating humanistic, inclusive library services that preserve cultural identity. Understanding and applying Balinese local wisdom in library services can strengthen the character of librarians. Librarians with character, a sense of humanity, and competence are key to achieving the library's goal of building a knowledge society.
Keywords: Balinese local wisdom values, librarians, character strengthening
References
Hairomamnun, & Syahril. (2018). Nilai-Nilai Pembinaan Karakter Pustakawan dalam Undang-Undang Nomor 43 Taun 2007 Tentang Perpustakaan. Al-Makabah, 3.
Indonesia, 2009. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI
Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan UU No.43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta: Kemendikbud.
Rozaq, Muhammad. (2025). Analisis Peran Kearifan Lokal dalam Penguatan Integritas dan Pencegahan Korupsi di Indonesia. JPIM, vol. 02 , no. 3 , Universitas Bandar Lampung.
Sibarani, Robert. (2018). “ Kearifan Lokal : hakikat, Peran dan Metode Tradisi Lisan. Jakarta.: Asosiasi Tradisi Lisan
Sinaga, Dian. (2006). “Kreatif Menulis Bagi Pustakawan” Bandung.
Siregar, M. R. A. (2015). Kompetensi Yang Harus di Miliki Seorang Pustakawan
(Pengelola Perpustakaan). Jurnal Iqra, 09.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 www.perpustakaan.undiksha.ac.id

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
