PENGARUH TINGKAT KECERDASAN EMOSIONAL (EMOTIONAL INTELLIGENCE) TERHADAP KEMAMPUAN REGULASI DIRI (SELF-REGULATION) MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KONFLIK SOSIAL
DOI:
https://doi.org/10.23887/gancej.v8i2.8436Abstract
Organisasi kemahasiswaan menuntut kematangan emosional, tetapi tidak sedikit mahasiswa berprestasi akademik tetap bertindak reaktif, impulsif, atau agresif saat menghadapi provokasi dan perbedaan pendapat. Penelitian ini bertujuan menguji daya prediksi kecerdasan emosional terhadap kemampuan regulasi diri mahasiswa dalam menghadapi konflik sosial. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain survei korelasional-prediktif potong lintang dengan sampel 150 mahasiswa aktif Universitas PGRI Yogyakarta yang dipilih melalui purposive sampling. Data dihimpun menggunakan kuesioner swalapor berskala Likert yang memenuhi kriteria validitas butir (r = 0,439–0,711), reliabilitas (α = 0,917 dan 0,860), dan kecocokan model faktor konfirmatori, lalu dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Secara deskriptif, kecerdasan emosional dan regulasi diri mahasiswa berada pada kategori sedang. Analisis inferensial menunjukkan bahwa kecerdasan emosional secara positif dan signifikan memprediksi regulasi diri (B = 0,405; IK 95% [0,334; 0,476]; t = 11,250; p < 0,001) dan menjelaskan 46,1% variansinya (R² = 0,461). Kecerdasan emosional dengan demikian merupakan prediktor yang berkaitan erat dengan regulasi diri mahasiswa, meskipun desain potong lintang dengan satu prediktor belum memungkinkan simpulan kausal maupun perbandingan dengan prediktor lain. Temuan ini mengisyaratkan bahwa materi kesadaran dan regulasi emosi layak dipertimbangkan dalam pembinaan organisasi kemahasiswaan, dengan catatan efektivitasnya perlu diuji melalui penelitian intervensi.




1.png)




